PALU. PIJAR SULTENG. ID- Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, berseloroh menyebut Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah, Nuryamin, sebagai “pakar jamban” saat audiensi penanganan stunting di ruang kerja Wakil Wali Kota Palu, Senin (18/1/2026). Sebutan itu muncul setelah Nuryamin memaparkan pentingnya sanitasi dan keberadaan jamban sehat sebagai bagian mendasar dalam percepatan penurunan stunting. Ia mengutarakan keinginannya untuk merangkul kalangan pengusaha dan paguyuban di Palu untuk penanganan stunting salah satunya melalui pembuatan jamban.

“Perbaikan gizi harus dibarengi dengan kebersihan lingkungan, termasuk jamban. Kalau tidak ada jamban, sama saja bohong, itu persoalan.Bisa melibatkan Ikatan Keluarga Alumni Untad, Unhas, Apindo, HIPMI, IWAPI, paguyuban-paguyuban, rumah makan Padang, Banjar, dan lainnya,” ungkap yamin sapaannya.
Sementara itu Imelda yang juga Politikus senior Partai Golkar membuka peluang pelibatan berbagai elemen masyarakat melalui sosialisasi. Menurutnya, banyak pelaku usaha sebenarnya ingin ikut membantu, namun belum memahami bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan.
“Teman-teman pengusaha sebenarnya mau membantu, hanya kadang mereka belum tahu caranya bagaimana. Kebanyakan mau, tapi masih malu-malu,” ungkapnya.
Nuryamin pun menegaskan bahwa kontribusi sekecil apa pun tetap berarti bagi percepatan penurunan stunting. Ia juga mengungkapkan telah memiliki contoh Rencana Anggaran Biaya (RAB) program sanitasi yang pernah dibuat saat bertugas di Pontianak dan dapat disesuaikan dengan kondisi di Kota Palu. Ia pun turut menyinggung pendekatan budaya masyarakat dalam pembangunan jamban.
“Nanti tanya dulu masyarakat maunya jamban terbuka atau tertutup atapnya. Ada warga yang memang terbiasa ingin melihat pemandangan langit, gambar jambannya saya juga punya” ujarnya yang disambut tawa ringan peserta audiensi.
Di akhir pertemuan, Imelda berharap para Penyuluh Keluarga Berencana dapat membantu memetakan kawasan yang masih memiliki persoalan sanitasi, terutama di wilayah sudut-sudut kota yang belum tertangani dengan baik.
“Penyuluh KB bisa melihat daerah-daerah yang sanitasi lingkungannya belum baik, terutama di bagian-bagian sudut,” tuturnya. _Lannyolla_








