PALU PIJARSULTENG.ID– Momentum tak biasa terjadi di kawasan Pasar Inpres Manonda, Rabu malam (25/2/26). Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APP-MBGI) Sulawesi Tengah, Dr. Hj. Kartini Malarangan, tampak menikmati seporsi Songkolo hitam atau yang akrab disebut warga Tanah Kaili sebagai Sokko Bagadang.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas malam, Kartini menyatu bersama masyarakat, mencicipi kuliner tradisional yang hanya hadir ketika malam menjelang hingga larut. Kehadirannya bukan sekadar menikmati sajian, tetapi menjadi simbol keberpihakan pada pangan lokal dan penguatan identitas kuliner daerah.
Sokko—atau songkolo hitam—merupakan pangan berbahan dasar beras ketan hitam yang dikukus, disajikan dengan taburan kelapa parut segar, serta dilengkapi latan goreng (ikan teri kering yang digoreng garing dan dibalut racikan bumbu dapur khas).
Karena dijajakan hanya pada malam hari hingga menjelang dini hari, masyarakat menyebutnya Sokko Bagadang kuliner yang identik dengan suasana malam Kota Palu.
Di kawasan Pasar Inpres Manonda sendiri, penjual Sokko terbilang langka. Hanya tiga lapak yang setia membuka dagangan setiap malam, menjaga tradisi rasa yang telah hidup turun-temurun.
Di sela menikmati hidangan, Dr. Hj. Kartini Malarangan menegaskan bahwa pangan tradisional seperti Sokko memiliki nilai gizi sekaligus nilai budaya yang tinggi.
Menurutnya, keberadaan kuliner rakyat bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang ketahanan pangan berbasis lokal dan pemberdayaan ekonomi kecil.
“Kita ingin pangan bergizi itu tidak selalu identik dengan makanan mahal. Pangan lokal seperti Sokko ini kaya energi, alami, dan punya identitas budaya yang kuat,” ujar. kartini yang sehari harinya beprofesi sebagai dosen tetap di Universitas Tadulako ( Untad) ini.
Sebagai Ketua APP-MBGI Sulteng, wanita energik yang berparas cantik ini, mendorong agar potensi kuliner tradisional dapat diintegrasikan dalam konsep dapur makan bergizi, sekaligus menjadi daya tarik wisata malam Kota Palu.
Kehadiran Kartini di lapak sederhana tersebut sontak menarik perhatian warga. Bagi para pedagang, kunjungan itu menjadi suntikan semangat.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata dukungan terhadap pelaku UMKM kuliner tradisional yang tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern.
Soko Bagadang di Pasar Inpres Manonda bukan sekadar makanan malam. Ia adalah simbol ketekunan, warisan rasa, dan denyut ekonomi rakyat kecil yang terus hidup di bawah cahaya lampu-lampu pasar.
Dan malam itu, ketika Ketua APP-MBGI Sulteng duduk bersahaja menikmati seporsi Sokko, yang terangkat bukan hanya aroma ketan hitam dan kelapa parut—tetapi juga harga diri kuliner lokal Tanah Kaili.***










