PARIMO. PIJARSULTENG.ID, – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong terus memperkuat komitmen dalam menekan angka stunting melalui sinergi lintas sektor. Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid saat membacakan sambutan Bupati H. Erwin Burase sekaligus membuka Pendampingan Program Investing in Nutrition and Early Years(INEY) Fase II Tahun 2026 yang dilaksanakan oleh Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu di Lantai II Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin (6/7/2026).

Dalam sambutan Bupati, Abdul Sahid menyampaikan apresiasi kepada Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu yang terus mendampingi Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dalam upaya percepatan penurunan stunting. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi bagi remaja putri, ibu hamil, bayi, balita, hingga kader Posyandu.
“Program ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan dalam memperkuat intervensi percepatan penurunan stunting. Kami berharap seluruh pihak dapat bergerak bersama agar setiap anak di Parigi Moutong memperoleh haknya untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” ujar Abdul Sahid.
Ia menjelaskan, Program INEY merupakan kerja sama Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu dengan Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan sejak tahun 2024 yang didukung pendanaan Pemerintah Indonesia bersama Bank Dunia. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas layanan kesehatan dan gizi melalui berbagai intervensi, mulai dari pencegahan anemia pada remaja putri, pelayanan kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi bayi dan balita, pemberian ASI eksklusif, MPASI sesuai standar, imunisasi lengkap, hingga penguatan kapasitas kader Posyandu.
Menurutnya, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, melainkan ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia karena berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, kesehatan, hingga produktivitas di masa depan. Karena itu, pencegahannya harus dilakukan sejak remaja, masa kehamilan, hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Abdul Sahid juga mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Parigi Moutong selama lima tahun terakhir menunjukkan tren yang relatif baik, meski masih mengalami fluktuasi. Tercatat angka stunting sebesar 10,9 persen pada 2021, turun menjadi 9,1 persen pada 2022, naik menjadi 9,8 persen pada 2023, kembali turun menjadi 8,7 persen pada 2024, dan berada di angka 9,3 persen pada 2025.
“Fluktuasi ini menjadi pengingat bahwa kerja keras kita belum selesai. Dibutuhkan komitmen yang berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan agar angka stunting terus ditekan secara konsisten,” tegasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi awal rangkaian pendampingan yang diawali dengan analisis situasi dan advokasi lintas sektor, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan langsung kepada kelompok sasaran di Posyandu maupun tingkat keluarga. Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Siniu dan Puskesmas Ampibabo ditetapkan sebagai wilayah percontohan (pilot project) Program INEY Fase II di Kabupaten Parigi Moutong.
Mengakhiri sambutan Bupati, Abdul Sahid mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan generasi Parigi Moutong yang sehat, cerdas, berkualitas, dan bebas stunting. Selanjutnya, ia secara resmi membuka Pendampingan Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II Tahun 2026.***












