Perempuan Urulele dan Pengetahuan yang Tumbuh dari Kebun

iklan

PALU.PIJARSULTENG.ID – Hari baru saja mendongak dari balik hijau gunung. Bulir embun menetes luruh bersamaan dengan sinar matahari yang mengintip dari balik vegetasi yang rapat. Ibu Sudariam (46) seorang petani perempuan di Desa Urulele bergegas menuju kebun miliknya. Kaki telanjangnya menitip bedeng-bedeng sawah. Kebun sayurnya tampak hijau dari jarak yang tak terlalu jauh.

Sementara dari kejauhan raungan suara kendaraan memecah sunyi pagi yang berebut dengan gemericik air sungai yang tak jauh dari rumah kebunnya. Pagi ini, ia harus bergegas melihat kebun sayurnya. Di atas lahan sekira 300 meter persegi, ibu tiga anak ini menanam aneka sayuran. Kangkung, terong, kacang panjang hingga cabai. Pagi menjadi waktu terbaik bagi Ibu Sudariam untuk menjenguk kebun sayurnya. Menjelang siang, matahari semakin terik. Ia memilih menepi.

‘’Saya ambil waktu pagi, kalo so siang so panas skali,’’ katanya saat ditemui akhir Juli lalu di kampungnya.

Ibu Sudariam tidak sendiri. Bersama komunitas perempuan di desanya, ia dan sejumlah perempuan lain dalam beberapa tahun terakhir mulai mengembangkan kebun sayur. Mereka berusaha mendekatkan hasil kebun dengan kebutuhan dapur.

Kegiatan itu berkembang setelah PT Vale Indonesia Tbk memberikan pembinaan tentang pertanian organik di desa tersebut. ‘’Ini kangkung yang ditanam semua pake pupuk organik,’’ ujar Sudariam kepada Pijar Sulteng. Pengetahuan itu rupanya tidak berhenti di anggota komunitas.

Pijar Sulteng menemui sedikitnya empat petani perempuan di desa yang sama. Salah satunya Ibu Rabiah (41). Ia bukan bagian dari komunitas binaan perusahaan. Namun, pengetahuan tentang cara menanam sayuran dengan pupuk organik sampai juga kepadanya melalui rekan-rekannya.

Sebelumnya, Rabiah dan suaminya masih menggunakan pestisida dan bahan kimia untuk merawat tanaman.Setelah mengetahui cara bertani dengan bahan organik, Rabiah mulai mengajak suaminya beralih. Bukan semata karena ingin mengurangi penggunaan bahan kimia, tetapi juga karena cara itu membuat pengeluaran untuk membeli pupuk lebih ringan.

Bagi Rabiah, ada manfaat lain yang terasa di rumah: sayuran yang mereka tanam sendiri bisa menjadi bagian dari pangan keluarga.Suami Ibu Rabiah, Ismail yang dihubungi melalui selulernya mengaku kehadiran PT Vale Indonesia Tbk yang membawa pengetahuan dan inovasi baru bagi petani kecil seperti dirinya. Memberi nilai tambah pada kehidupan keluarga kecilnya. ‘’Saya tidak beli pupuk di toko lagi,’’ katanya. Jika terpaksa membeli, itupun tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. ‘’Sekadar mencukupkan saja,’’ katanya.

Keluarga ini memiliki lahan sekitar setengah hektare. Sebagian ditanami durian yang masih menggunakan pupuk nonorganik. Namun, untuk tanaman sayuran, penggunaan pupuk kimia dalam setahun terakhir nyaris tidak ada lagi.

Di Desa Urulele, pengetahuan itu mulai dianggap lebih penting daripada sekadar bantuan yang datang. Kepala Dusun V, Rahmat, melihat sendiri bagaimana warga mulai memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka untuk membuat pupuk. Tidak semuanya harus dibeli dari toko. Bagi petani, cara itu berarti satu hal sederhana, pengeluaran bisa ditekan.

Tetapi bagi Rahmat, ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar penghematan. Pengetahuan itu harus tinggal di tangan warga. Ia berharap semakin banyak petani di desanya yang menguasai cara membuat pupuk organik. Bukan hanya tahu menggunakannya, tetapi juga mampu memproduksinya sendiri.

‘’Kalau nanti PT Vale tidak lagi bersama-sama dengan kelompok di desa, kita sudah bisa membuat sendiri,’’ katanya. Rahmat sadar, pembinaan perusahaan tidak mungkin berlangsung selamanya. Suatu ketika, perusahaan bisa saja berpindah ke desa lain dan membawa program yang sama ke tempat berbeda.

Karena itu, yang ingin ia pastikan bukan berapa lama pendampingan berlangsung, melainkan apa yang tersisa setelah pendampingan itu selesai. Bahan-bahan mungkin kembali menjadi limbah. Kebun akan terus berganti musim. Tetapi pengetahuan, menurut Rahmat, semestinya tetap tinggal. Dengan pengetahuan itu, warga tidak hanya tahu cara menggunakan pupuk organik. Mereka juga tahu cara membuatnya sendiri.

Sudariam, Rabiah dan suaminya memahami bahwa pengetahuan itu tidak cukup berhenti pada kebun mereka sendiri. Kepada Pijar Sulteng, mereka mengatakan pengetahuan membuat pupuk tanpa bahan kimia kini mulai dibagikan kepada warga lain.

Pengetahuan itu antara lain tentang memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar desa. Mikroorganisme lokal (MOL) dan limbah organik dapat diolah menjadi pupuk maupun pestisida alami.

Cara itu diperkenalkan melalui pembinaan pertanian organik yang dilakukan PT Vale Indonesia. Bagi para petani, bahan-bahan tersebut tidak perlu dicari jauh-jauh. Sebagian tersedia di sekitar rumah dan kebun.

Pengetahuan sederhana itu membuat mereka punya pilihan lain selain membeli pupuk dan pestisida buatan pabrik. Dan yang lebih penting, pengetahuan itu bisa diteruskan kepada petani lain, bahkan ketika pendampingan suatu hari berhenti.

Bagi warga, persoalannya bukan semata bagaimana menghasilkan sayuran. Ada pertanyaan yang lebih jauh. Bagaimana hasil dari kebun kecil itu bisa memberi nilai lebih bagi keluarga. Dan apakah pengetahuan tersebut bisa bertahan ketika pendampingan berakhir.

Pijar Sulteng menghubungi Communication Officer PT Vale Indonesia Tbk, Winda Bestari. Menurut Winda, ruang kelola pertanian tetap menjadi bagian yang diperhitungkan dalam program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Salah satunya melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).

Program tersebut mendorong petani menggunakan praktik pertanian organik sekaligus memanfaatkan lahan secara efisien. Selain tanaman pangan dan hortikultura, kelompok perempuan juga didorong mengembangkan tanaman obat keluarga melalui program UKBM-Herbal.

Di sana, kata Winda, perempuan tidak hanya belajar menanam. Mereka juga mendapat pendampingan untuk mengolah hasil tanaman menjadi produk turunan, termasuk jamu dan obat tradisional, serta mengurus legalitas seperti P-IRT dan NIB.

Dengan cara itu, perempuan diharapkan tidak berhenti sebagai penghasil bahan mentah, tetapi dapat memperoleh nilai tambah dari hasil kebunnya. Ada bagian lain yang menurut Winda mulai terlihat dalam program tersebut: munculnya petani yang kemudian menjadi tempat belajar bagi petani lainnya.

Sepuluh petani telah mengikuti pelatihan Training of Trainers (ToT). Mereka kemudian diharapkan menjadi tutor sebaya dan penggerak di tingkat desa. Winda menyebut mereka sebagai local hero—orang-orang yang dapat berbagi pengetahuan dan membantu menjaga keberlanjutan program ketika pendampingan tidak lagi dilakukan secara intensif.

Gagasan itu sejalan dengan harapan Rahmat di Desa Urulele: pengetahuan membuat pupuk organik tidak berhenti ketika program perusahaan selesai. Bagi PT Vale, keberlanjutan program juga diukur dari kemampuan masyarakat menjalankannya secara mandiri. Winda mengatakan, program dianggap memiliki keberlanjutan ketika praktik yang diperkenalkan tetap dilakukan dan dikembangkan setelah masa pendampingan berakhir

Manfaatnya, kata dia, tidak hanya diukur dari perubahan ekonomi penerima program, tetapi juga dari dampaknya terhadap keluarga, lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.

Tidak Menambah Beban

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Perempuan tani biasanya tidak hanya berada di kebun. Mereka juga mengurus rumah dan keluarga.

Karena itu, Winda mengatakan program dirancang berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Warga dilibatkan sejak proses perencanaan agar kegiatan dapat disesuaikan dengan waktu, kemampuan dan situasi mereka.

Pendekatan tersebut, menurut Winda, dimaksudkan agar program tidak menjadi tambahan beban bagi perempuan, tetapi justru memberi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan dan penghidupan.

Di bidang pertanian, pelatihan yang diberikan antara lain mencakup ekologi tanah, metode System of Rice Intensification (SRI), pengelolaan tanah dan air, pembuatan pupuk organik, konservasi kelembapan tanah serta pengendalian hama berbasis hayati. Pengetahuan itu diarahkan untuk membuat petani lebih efisien menggunakan air dan bahan produksi, sekaligus membantu mereka menghadapi perubahan cuaca.

Masalah petani tidak berhenti ketika tanaman dipanen. Ada persoalan lain: ke mana hasil kebun akan dibawa? PT Vale, kata Winda, mendorong agar hasil pertanian tidak selalu dijual sebagai bahan mentah. Sebagian dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Ibu Sudariam di kebun kangkung miliknya di Desa Urulele Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali (f-dok)

Pendampingan juga mencakup pengurusan legalitas seperti P-IRT dan NIB, pelatihan kewirausahaan, pengelolaan keuangan dan pemasaran. Harapannya, kelompok perempuan dapat membangun akses pasar sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada satu saluran penjualan.

Bagi Winda, posisi perempuan dalam pertanian bukan sekadar sebagai penerima manfaat. Mereka juga dapat menjadi pelaku usaha, pengelola kelompok dan bagian dari pengambilan keputusan di tingkat komunitas.

Ukuran keberhasilan yang paling penting, katanya, pada akhirnya adalah ketika masyarakat mampu meneruskan apa yang telah dipelajari. Sebab program pemberdayaan, seperti kebun yang dirawat Sudariam setiap pagi, tidak berhenti pada saat seseorang datang membawa pengetahuan. Ia baru benar-benar tinggal ketika pengetahuan itu berpindah tangan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *