PALU. PIJARSULTENG.ID— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng),mencatat kinerja sektor jasa keuangan di daerah tersebut tetap stabil dan menunjukkan pertumbuhan positif hingga akhir Desember 2025.

Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, mengatakan kondisi tersebut terlihat dari perkembangan industri perbankan, industri keuangan nonbank, hingga pasar modal yang terus menunjukkan tren pertumbuhan.l
“Perkembangan sektor jasa keuangan di Sulawesi Tengah hingga akhir 2025 menunjukkan kinerja yang stabil dengan pertumbuhan yang positif,” kata Bonny dalam kegiatan Jurnalis Update Triwulan I 2026 di Palu, Jumat (13/3/2026).
Menurut dia, pertumbuhan tersebut juga didukung berbagai program edukasi dan peningkatan inklusi keuangan yang terus dilakukan OJK, serta penguatan pelindungan konsumen di sektor jasa keuangan.
Salah satu sektor yang mencatat pertumbuhan adalah Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau fintech lending. Hingga Agustus 2025, outstanding pembiayaan LPBBTI di Sulawesi Tengah mencapai Rp660,11 miliar.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp434,92 miliar.
“Kenaikan ini menunjukkan peran LPBBTI yang semakin besar dalam mendukung akses pembiayaan masyarakat di Sulawesi Tengah,” ujar Bonny.
Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah rekening penerima pembiayaan yang naik dari 135.695 rekening pada Agustus 2024 menjadi 185.226 rekening per Agustus 2025.
Meski pembiayaan meningkat, kualitas kredit masih terjaga. Rasio tingkat wanprestasi lebih dari 90 hari atau TWP90 tercatat sebesar 1,56 persen, relatif stabil dibandingkan 1,55 persen pada Agustus 2024.
Di sektor pasar modal, minat masyarakat untuk berinvestasi juga terus meningkat. Jumlah investor yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID) di Sulawesi Tengah mencapai 216.045 SID per Desember 2025, naik dari 144.159 SID pada Desember 2024.
Investor reksa dana masih mendominasi dengan jumlah 164.562 SID atau sekitar 76,17 persen dari total investor. Sementara investor saham tercatat sebanyak 42.271 SID, meningkat dibandingkan 29.198 SID pada tahun sebelumnya.
Adapun investor Surat Berharga Negara (SBN) juga meningkat menjadi 4.212 SID dari sebelumnya 3.282 SID.
Seiring meningkatnya jumlah investor, nilai transaksi saham di Sulawesi Tengah juga mengalami kenaikan. Hingga Desember 2025, nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp1.558,10 miliar, meningkat dibandingkan Rp658,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain mencatat pertumbuhan sektor jasa keuangan, OJK Sulawesi Tengah juga terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, OJK Sulawesi Tengah telah melaksanakan 148 kegiatan edukasi keuangan yang diikuti 142.557 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pelaku UMKM, hingga pekerja informal dan penyandang disabilitas.
Di sisi layanan konsumen, hingga 31 Desember 2025 OJK Sulawesi Tengah menerima 1.547 layanan yang terdiri dari 451 pengaduan, 1.075 permintaan informasi, serta 21 penerimaan informasi.
Sebagian besar layanan terkait perbankan umum konvensional sebanyak 522 layanan, diikuti perusahaan pembiayaan 431 layanan, serta layanan terkait fintech sebanyak 303 layanan.NIA










