PALU. PIJARSULTENG. ID, -Perkembangan industri perbankan di Sulawesi Tengah (Sulteng) menunjukkan tren positif sepanjang 2025. sekaligus NPL rendah di sejumlah sektor. Hal itu dikemukakan Bonny Hardi Putra, Kepala OJK Sulawesi Tengah, pada kegiatan Journalist Update dan Media Gathering di Torau Resort, Kabupaten Poso, Senin (8/12/2025),
Menunjukkan adanya pergerakan secara signifikan , bukan hanya dipicu oleh komposisi kredit dan total aset perbankan di wilayah tersebut.
Pertumbuhan ini terlihat dari besarnya porsi kredit pada beberapa sektor ekonomi serta kontribusi aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap perbankan nasional. OJK Sulteng menilai peningkatan tersebut menjadi sinyal menguatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada pemaparan tersebut dijelaskan bahwa sektor rumah tangga masih mendominasi penyaluran kredit dengan komposisi terbesar mencapai 43,70%, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 1,66%.
Kondisi ini menunjukkan tingginya kebutuhan pembiayaan konsumtif masyarakat di Sulawesi Tengah, sekaligus mencerminkan stabilitas pembayaran karena level NPL masih tergolong terkendali.
Sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi kendaraan, berada di posisi kedua dengan porsi 16,69% dan NPL 3,68%.
Aktivitas perdagangan yang cukup dinamis di sejumlah kabupaten/kota turut mendorong permintaan kredit dari pelaku usaha untuk kebutuhan modal kerja maupun ekspansi.
Pada urutan ketiga, sektor pertambangan dan penggalian mencatat porsi 13,85% dengan NPL sangat rendah yakni 0,19%.
Hal ini sejalan dengan karakteristik Sulawesi Tengah yang memiliki kontribusi besar dari sektor pertambangan, termasuk nikel dan komoditas mineral lain. Stabilitas pembayaran pada sektor ini dinilai kuat karena ditopang oleh permintaan global yang masih tinggi.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berada di posisi keempat dengan porsi kredit 10,46% dan NPL 1,86%. OJK menilai sektor ini tetap menjadi tulang punggung wilayah terutama bagi masyarakat rural, meski tantangannya masih terkait fluktuasi harga dan faktor cuaca.
Sektor industri pengolahan berada di posisi kelima dengan komposisi 7,32% dan NPL 0,83%. Pertumbuhan industri pengolahan di Sulteng disebut berkembang seiring meningkatnya investasi di kawasan industri, terutama di wilayah Morowali dan sekitarnya.
Selain komposisi kredit, OJK Sulteng juga memaparkan share aset perbankan daerah terhadap nasional. Total aset perbankan nasional tercatat sebesar Rp 25.376 triliun, sementara aset perbankan Sulteng berkontribusi Rp 77,32 triliun, atau sekitar 0,30% dari total aset nasional. Meskipun masih di bawah satu persen, kontribusi ini disebut terus meningkat mengikuti pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari sisi kredit, kontribusi Sulteng juga tercatat mencapai Rp 56,3 triliun atau 0,68% dari total kredit nasional yang berada di level Rp 8,5 triliun. Penyaluran kredit yang tumbuh di beberapa sektor dianggap sebagai indikator naiknya kebutuhan pembiayaan produktif maupun konsumtif masyarakat.
Pada komponen DPK, kontribusi daerah mencapai Rp 37,5 triliun, atau 0,39% dari total DPK nasional sebesar Rp 9,6 triliun. Menurut OJK, pertumbuhan DPK penting untuk menguatkan likuiditas perbankan agar mampu menjaga kestabilan penyaluran kredit ke masyarakat. KIA












