POSO.PIJARSULTENG.ID,– Koperasi Karya Bersama Desa Pandayora, Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) , menargetkan ekspor 12,5 ton kakao ke perusahaan Valrhona di Prancis pada awal Desember 2026.

Ketua Koperasi Karya Bersama, Bernart Ranonto, mengatakan, saat ini pihaknya tengah mengurus dokumen ekspor untuk merealisasikan pengiriman tersebut.
Pemerintah Kabupaten Poso diharapkan dapat membantu memperlancar proses administrasi yang dibutuhkan.
Hal itu disampaikan Bernart dalam kegiatan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Business Matching dalam Ekosistem Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) komoditas kakao Kabupaten Poso di Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan, Selasa (13/10/2026).
“Pada tahun ini kami mendapatkan kontrak dengan perusahaan Valrhona di Prancis sebanyak 12,5 ton. Pengiriman ekspor direncanakan pada awal Desember. Mudah-mudahan target ini dapat tercapai,” ujarnya.
Bernart mengungkapkan, saat ini sekitar lima ton biji kakao kering hasil fermentasi dari wilayah Pamona Selatan telah tersedia di gudang dan siap dikirim. Koperasi juga merencanakan proses fermentasi kembali pada pekan depan sekaligus mulai membeli biji kakao basah dari petani.
“Kami berharap dukungan pemerintah daerah agar proses pengurusan dokumen dan pengiriman nantinya tidak mengalami kendala,” katanya.
Menurut Bernart, target ekspor tersebut menjadi bagian dari upaya Koperasi Karya Bersama untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, nilai tambah, dan daya saing kakao Poso, sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
Ia menegaskan, pengembangan kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara koperasi, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BPJS Ketenagakerjaan, PT Pegadaian, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, pihaknya berharap semakin banyak petani dan pekerja sektor pertanian memperoleh akses terhadap perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, kolaborasi dengan PT Pegadaian diharapkan dapat membuka akses terhadap layanan keuangan yang mendukung kebutuhan dan pengembangan usaha produktif masyarakat, khususnya petani kakao dan anggota koperasi.
Bernart juga mengapresiasi peran OJK dalam mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
“Kami berharap petani memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan keuangan, pemanfaatan layanan keuangan secara bijak, serta pengembangan usaha yang produktif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Koperasi Karya Bersama ingin menjadi wadah ekonomi masyarakat yang tidak hanya menghimpun anggota, tetapi juga memberikan pelayanan, pendampingan, membuka akses, dan menciptakan peluang ekonomi bagi petani.
Selain menargetkan ekspor, Koperasi Karya Bersama juga tengah merancang pengembangan identitas daerah bagi produk kakao Poso agar semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional.
Bernart berharap, pada pengiriman mendatang, nama dan logo Poso dapat dicantumkan pada produk kakao yang dipasarkan sehingga identitas daerah turut dikenal melalui komoditas unggulan tersebut.
“Kami ingin kakao Poso memiliki identitas daerah yang dikenal luas, seperti produk kakao dari Bali. Mudah-mudahan ke depan nama Poso juga dapat tercantum pada produk yang dipasarkan di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.
Ia berharap, kerja sama yang dibangun melalui kegiatan tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dilanjutkan dengan langkah konkret yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat.
“Kami mengajak para petani untuk terus meningkatkan pengetahuan, kualitas produksi, dan kelembagaan kelompok, serta memanfaatkan layanan yang tersedia secara bertanggung jawab,” tuturnya.
OJK Dorong Pengembangan Ekosistem Kakao
Sementara itu, Deputi Direktur Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LJK Lainnya (PVML), Ario, mengatakan Sulawesi Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kakao.
Berdasarkan data produksi tahun 2025 yang disampaikannya, Sulawesi Tengah menghasilkan 126.516 ton kakao dan menjadi salah satu sentra utama kakao nasional.
Menurut Ario, potensi tersebut perlu dikembangkan melalui kolaborasi yang melibatkan petani, koperasi, lembaga keuangan, Pegadaian, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.
“Ini hasil yang luar biasa dan tentunya membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi ini perlu terus dikembangkan ke depan,” ujarnya.
Ia menilai, keterlibatan berbagai pihak dalam ekosistem pengembangan ekonomi daerah menjadi penting karena penguatan sektor kakao tidak cukup hanya mengandalkan pembiayaan.
Menurutnya, pembiayaan harus berjalan beriringan dengan kesiapan koperasi, semangat petani, pendampingan, serta dukungan pemerintah daerah agar kegiatan ekonomi dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.
Ario menjelaskan, OJK akan melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Evaluasi diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai hambatan di lapangan sekaligus memperbaiki mekanisme kerja sama agar semakin efektif.***













