PALU.PIJARSULTENG.ID — Atmosfer persaingan kian memanas! Sebanyak 10 finalis lomba karya ilmiah Police Brief yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Sulawesi Tengah (Sulteng) resmi memasuki babak krusial. Bertempat di Aula Kantor BRIDA Sulteng, Jalan Swadaya, Kamis (30/4/2026).
Para finalis mengikuti pengarahan teknis sekaligus pengundian nomor urut penampilan yang akan menentukan strategi mereka di panggung presentasi.
Kegiatan ini menjadi titik penentuan bagi para peserta terbaik yang telah menyisihkan 64 pesaing lainnya dari total 74 pendaftar. Kini, hanya tersisa 10 nama yang siap bertarung gagasan, menyajikan analisis tajam dan solusi inovatif melalui karya Policy Brief mereka.

Ketua panitia pelaksana, Ahfan Halim, SE., M.Si menegaskan bahwa proses seleksi berjalan ketat dan objektif.
“Dari puluhan peserta, terpilih 10 finalis yang benar-benar memiliki kualitas dan kedalaman analisis. Mereka akan kembali diuji oleh tim juri pada 25 hingga 26 Mei 2026 untuk menentukan tiga terbaik,” ujarnya.
Tak hanya itu, kualitas penilaian juga dijamin oleh deretan juri berkompeten di bidangnya. Mereka adalah Eriy Ricardo, Wildan Pingkan Suripurna Hamzens, serta Kadar Ramadhan.
Selain itu, proses penilaian juga diperkuat dengan kehadiran tim penilai dari BRIDA pusat yang turut memberikan perspektif nasional dalam menakar kualitas karya para finalis
Dalam penilaian itu, di Tahap I (penelitian naskah bobotnya sebesar 40 persen ) dengan beberapa komponen dan indikator. Antara lain komponen subtansi dan relevansi memiliki, indikator kesesuaian isu, urgensi, sasaran kebijakan, sementara komponen analisis dan argumentasi melihat indikator ketajaman analisis, data pendukung, logika kejelasan, implementatif, inovatif.
Sementara komponen sistematika penulisan bahasa dan penyajian memiliki indikator struktur policy brief dan alur kejelasan bahasa, kerapiahan keaslian ide dan bebas plagiat.
Begitu halnya komponen orisinalitas karya dengan indikator keaslian ide dan bebas plagiarisme.
Dan untuk Penilaian Tahap II memiliki bobot 60 persen. Adapun beberapa komponen penilaian yakni komponen penguasaan materi dengan indikator pemahaman isi policy brief, presentasi memiliki indikator sistematika, visual penyampaian.
Begitu halnya komponen kualitas dan rekomendasi memiliki indikator kebijakan kepercayaan diri dan etika, sedangkan komponen komunikasi dan sikap memiliki indikator bahasa, begitu juga komponen kualitas rekomendasi mempunyai indikator kelayakan dan dampak kebijakan dan komponen terakhir Komunitas dan Sikap yang indikatornya Kepercayaan diri, etika, bahasa.
“ Nantinya yang keluar sebagai pemenang juara 1 mendapatkan sertifikat dan bonus Rp5 juta, Juara II sertifikat dan Bonus dana Rp3 juta dan juara III pun mendapatkan Sertifikat dan bonus sebesar Rp2 juta sementara peserta yang telah ikut berpartisipasi juga mendapatkan sertifikat, ” jelas Ahfan.
Dalam hal ini kata Ahfan, pengundian nomor tampil pun bukan sekadar formalitas. Momentum ini menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan mental dan strategi presentasi para peserta.
Setiap finalis dituntut tidak hanya unggul dalam substansi, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara lugas, tajam, dan meyakinkan di hadapan dewan juri.
Ajang ini diharapkan melahirkan pemikiran-pemikiran segar yang mampu menjadi referensi kebijakan strategis di daerah, sekaligus mendorong budaya riset di kalangan generasi muda Sulteng.
Kini, sorotan tertuju pada 10 finalis terbaik. Siapa yang akan keluar sebagai juara dan membawa gagasan brilian ke panggung tertinggi? Jawabannya akan terungkap dalam duel intelektual yang dipastikan berlangsung sengit pada akhir Mei mendatang.***












